News > Back

Sebuah Desa Mendapat Julukan Kampung Poligami, Begini Curhatan Warga Wanitanya

Senin, 16 Oktober 2017 10:29 |Sumber : http://jogja.tribunnews.com/2017/10/16/sebuah-desa-mendapat-julukan-kampung-poligami-begini-curhatan-warga-wanitanya |Reposted by Megaswara

TRIBUNJOGJA.COM - Sejumlah daerah biasanya diberikan identitas sesuai dengan hal yang tren atau banyak ditemukan di daerahnya. Kadang juga berdasarkan lokasi kelahiran orang yang terkenal atau berjasa. Hal ini juga yang terjadi di desa yang satu ini. Begitu banyak warga desa yang poligami sehingga desa di Sidoardo, Jawa Timur, ini dijuluki sebagai 'desa poligami'. Seorang perempuan tampak sibuk membuat kopi dan mi instan di sebuah warung yang terletak tak jauh dari ujung Jalan Wayo di Desa Kedung Banteng, Tanggulangin, Sidoarjo. Sementara, di teras dan halaman warung, anak-anak muda tampak duduk-duduk sambil menikmati kopi mereka. Perempuan berusia 55 tahun, Nur Khotimah, sudah sepuluh tahun terakhir berjualan kopi dan mi instan untuk menghidupi ketiga anaknya. Suaminya menikah lagi dengan perempuan tetangganya. Namun, Nur tidak bercerai secara resmi melalui pengadilan agama. "Sudah tidak tinggal serumah."

"Biarkan saja, buat apa dipikirkan," kata Nur sebagaimana dikutip dari BBC Indonesia, Sabtu (14/10/2017). Dia mengaku, sempat marah ketika suaminya baru menikah. Tetapi, selanjutnya, dia lebih memilih bangkit, menghidupi dirinya dan anak-anaknya, sampai mereka kemudian bekerja. "Kalau dipikirkan malah jadi penyakit," kata Nur. Setelah menikah, suaminya tidak memberi lagi nafkah. Dalam Undang-undang Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), tidak memberikan nafkah pada istri merupakan satu bentuk kekerasan ekonomi. Meski sudah berpisah, suaminya sesekali bertandang ke rumahnya untuk menemui anak-anak dan empat cucunya. Nur mengaku tidak terlalu mempedulikan. Saat ini, ketiga anaknya menikah muda. Anak pertamanya, perempuan, menikah selepas lulus SMP.

Sementara, anak kedua, laki-laki, dan ketiga, perempuan, menikah selepas lulus SMA. Ketiganya sudah bekerja. Yang pertama sebagai penata rias pengantin, yang kedua sebagai satpam, dan si bungsu merupakan buruh pabrik. Meski dimadu suaminya, Nur tak setuju jika anaknya menikah dengan lebih dari satu orang. Selain dirinya, Nur mengatakan, banyak perempuan di desa tersebut mengalami nasib sama ketika suami mereka berpoligami. Asal usul nama jalan Seorang warga, Mursidan, mengatakan, banyaknya warga yang berpoligami membuat kawasan ini dinamakan Jalan Wayoh oleh warganya. Dalam bahasa Indonesia, Wayoh artinya bermadu, poligami. "Bahkan, ada satu warga yang sampai memiliki tiga istri sekaligus." "Orangnya kayak penjaga tambak tapi istrinya sampai tiga," tutur Mursidan.

Menurut Mursidan, kebanyakan pernikahan poligami itu dilakukan secara siri. Betapa pun, katanya, praktik itu kini sedikit menurun. Menurut Tohirin, Kepala Desa Kedung Banteng, praktik itu kebanyakan terjadi sekitar tahun 80-an hingga akhir tahun 90-an. Dan, istri pertama serta kedua tinggal di kawasan yang sama. "Cuman beda RT saja," kata dia. Namun, Tohirin mengatakan, pratik poligami sudah tidak dilakukan generasi yang lebih muda karena laki-laki dan perempuan sudah mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. "Kalau sekarang, kebiasaan seperti itu sudah tidak ada lagi, hanya namanya saja yang tetap wayoh," kata dia. Nama jalan yang tidak berubah itu, dan banyak yang menduga, kawasan ini menyediakan layanan nikah siri. Beberapa kali Tohirin kedatangan tamu yang bertanya tentang nikah siri itu. "Karena nama itu, dikira desa kami ini menyediakan layanan nikah siri," tutur dia. (BBC Indonesia)

Sumber : http://jogja.tribunnews.com/2017/10/16/sebuah-desa-mendapat-julukan-kampung-poligami-begini-curhatan-warga-wanitanya

Comments

Berita

Add A Comment